Review Hotel Griya Wijaya Ambarawa

Rekomendasi tempat menginap kalau berlibur ke Ambarawa. Lokasinya strategis, dekat terminal, dan dekat dengan wisata religi Gua Kerep.

Hotel Griya Wijaya, Ambarawa. copyright @katanieke



Patung sapi dengan tubuh dari ban mobil yang dicat coklat menyambut kedatangan tamu hotel Griya Wijaya di depan pintu masuk lobi yang menyatu dengan restoran. Bangunannya tak kelihatan seperti sebuah hotel. Lebih seperti sebuah rumah dengan interior yang homy. Sebuah bangunan rumah yang memanjang ke belakang. Bagian depan merupakan lobi dan restoran. Berikutnya adalah kamar-kamar para tamu, yang pintunya langsung menghadap parkiran. Desainnya seperti sebuah rumah modern dan asri.

Suasana lobi depan Hotel Griya Wijaya Ambarawa.
copyright @katanieke
Saya tiba di hotel Griya Wijaya, Ambarawa setelah menempuh
perjalanan kurang lebih lima jam dari Surabaya. Letaknya agak naik ke bukit,
sangat dekat dengan wisata religi Gua Maria Kerep Ambarawa. Hotel ini memang
persis di pinggir jalan. Namun tempatnya sangat tenang.
Mobil yang mengantar saya berhenti tepat di depan kamar saya.
Petugas hotel sudah berdiri di depan pintu, siap untuk menurunkan barang-barang
dari mobil dan memasukkannya ke dalam kamar.
“Bu, penyejuk udaranya sudah saya nyalakan. Kamar mandinya
disertai dengan fasilitas air panas. Lalu untuk saluran televisinya,
menggunakan langganan kabel,” petugas hotel itu menjelaskan sambil menuntun
saya ke depan televisi, menunjukkan remote berserta cara mengganti
saluran tivi.
“Jika ada sesuatu, kami di lobi ya, Bu,” ucapnya lagi usai
memberi penjelasan soal fasilitas kamar.
Pandangan saya menyapu seisi kamar. Setelah pintu masuk, di
sebelah kiri saya adalah kamar mandi dengan wastafel, kloset, dan shower.
Sebelah kamar mandi terdapat rak kecil yang memanjang ke atas. Di situ, tertata
dua buah handuk berwarna putih dari hotel. Ukurannya tak terlalu besar.
Sebelah kanan, televisi menempel di dinding bagian tengah
beserta modem tivi kabel. Ada meja kecil yang bisa digunakan untuk meletakkan
barang-barang. Lalu di pojok ruangan, sebuah rak untuk meletakkan tas barang
dan ransel. Ukuran kamarnya mungkin sekitar 3×4 meter. Dua buah ranjang
berukuran single beserta selimut terletak menghadap ke televisi. Kamar yang
nyaman, batin saya. Ohya, harga kamar yang saya tempati ini sekitar Rp 300 ribu. 

Suasana kamar di Hotel Griya Wijaya Ambarawa. copyright @katanieke
Hal yang paling saya suka adalah bagian belakang kamar bukan
merupakan dinding. Tapi dinding berupa kaca dan pintu kaca untuk menuju teras
belakang kamar. Dua buah kursi dan sebuah meja yang bisa digunakan untuk
membaca buku atau minum teh panas.
Griya Wijaya memiliki lima belas kamar. Saat saya berjalan ke
lobi untuk minum teh dan menikmati kudapan, sepasang suami istri masuk ke lobi
dan menanyakan ketersediaan kamar.
“Mohon maaf, kami sedang penuh,” ucapnya.
Ah ya, saat saya tiba di sana memang memasuki akhir pekan.
Tepatnya hari Jumat siang. Saya menginap selama tiga hari di Griya Wijaya
Ambarawa. Kebanyakan penghuni hotel adalah yang hendak ziarah ke Gua Maria
Kerep, yang hanya sepelemparan batu dari hotel. Lima menit jalan kaki. Tapi tak
sedikit pula, tamu hotel yang memang mencari tempat tenang dan nyaman. Saya
melihat sepasang suami istri yang mengenakan kerudung juga menginap di situ.

Menginap di sini juga dapat fasilitas sarapan. Hari pertama saya dapat menu naso gudheg, esoknya soto ayam. Minuman seperti kopi dan teh juga bisa ambil sepuasnya di area resto hotel, gratis. Kalau air mineral, di dalam kamar disediakan dua botol. 

Sore itu, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke arah deretan
kios penjual suvenir Gua Maria Kerep. Kebetulan, paman dan bibi saya adalah
pemilik salah satu kios. Sekalian singgah, menyapa, dan nglarisi (beli).
Kali aja ada barang-barang yang lucu seperti gelang. Tak semua oleh-oleh berupa
barang rohani. Ada yang netral dan bisa dibawakan untuk kawan.
Harganya enggak mahal. Saya membeli buah tangan untuk
sejumlah teman, harganya cuma Rp 5.000. Di situ juga terdapat lapangan yang
biasa digunakan untuk anak-anak sekolah sekitar. Kali itu, ratusan anak-anak
berseragam olah raga biru dan berseragam Pramuka tampak di lapangan.
Kios-kios merupakan bangunan dua lantai. Lantai bawah untuk
berjualan cinderamata, lantai dua dimanfaatkan sebagai food court atau pusat
kulinernya. Dari lantai bawah saja, sudah tercium aroma daging dibakar. Yap,
apalagi kalau bukan sate. Ada sate kelinci, sapi, dan ayam. Saya memesan sate
kelinci dengan lontong. Satu porsi sate kelinci Rp 25.000 dan lontongnya Rp
4.000.
Lantai pujasera tersebut terdiri dari beberapa kios yang
disusun memanjang. Bagian tengahnya menjadi jalan bagi pengunjung. Tiap kios
terdapat meja dan kursi untuk makan. Jika tempatnya tak cukup menampung banyak
orang, tak jauh dari situ tersedia meja-meja dan kursi-kursi yang bisa
digunakan konsumen kios mana saja. Tempatnya juga cukup bersih.
Tak cuma sate, menu lainnya pun beragam, seperti sate kere
(sate tempe gembus), pecel, rawon, bakso, bakmi, mie instan (enggak sebut merek
ya, ahahaha), nasi goreng, penyetan ikan dan ayam serta lalapan. Harganya pun
terjangkau. Pujasera ini beroperasi hampir 24 jam. Penjaganya biasanya
bergantian atau pakai sistim shift. Soalnya, untuk mengakomodir tamu-tamu di
wisata religi yang datang tengah malam atau subuh, dan mereka yang berkemah.
Food court atau pujasera dekat Hotel Griya Wijaya Ambarawa.
copyright @katanieke
Selain pusat kuliner, di sekitar hotel juga terdapat banyak
warung makan seperti penjual mie rebus, nasi goreng, daging babi, soto, capcay,
dan bakso.

Wisata Seputar Hotel

Hanya lima menit jalan kaki dari hotel Griya Wijaya. Tamannya indah, terdapat ruang adorasi, dan petilasan jalan salib. Hotel Griya Wijaya dan Gua Maria Kerep Ambarawa ini berjarak sekitar 500 meter dari terminal bus Ambarawa. Untuk naik ke atas, ada mikrolet. Bus pariwisata biasanya hanya bisa sampai di terminal. Tapi jika Anda membawa kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, bisa sampai atas. Peziarah berdatangan ke tempat ini tanpa henti, 24 jam. 

Patung Maria ini lokasinya berhadapan dengan kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa. Masih satu area. Dekat dengan pujasera dan toko oleh-oleh. Lima menit jalan kaki dari hotel Griya Wijaya. Tinggi patung Maria Assumpta sekitar 23 meter, penopangnya sekitar 19 meter sehingga totalnya sekitar 42 meter. Konon patung ini tertinggi se-Asia Tenggara. 

Monumen ini dibangun untuk mengenang pertempuran yang dikenal sebagai Palagan Ambarawa pada Desember 1945.]Berlokasi di Jalan Mgr Sugiyopranoto, Panjang Lor, Panjang, Ambarawa. Apabila dengan mobil, perjalanan ke tempat ini butuh sekitar 7 menit.

Dijuluki Gereja Jago lantaran terdapat petunjuk arah mata angin berbentuk ayam jago yang terdapat di bagian pucuk atap gereja, di bagian menaranya. Sebenarnya nama gereja ini adalah Gereja Paroki Santo Yusuf Ambarawa. Dalam satu kompleks terdapat pula sekolah-sekolah Katolik. Gereja dengan desain kolonial Belanda ini dibangun pada 1924. Keaslian bangunan masih terjaga sehingga Anda bisa menikmati keindahan arsitektur bangunannya. 
Kerkhoff merupakan pemakaman yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Yang dimakamkan adalah para biarawati, biarawan, dan pastor, serta warga Ambarawa yang beragama Katolik. Di sana juga terdapat beberapa makam pejuang kemerdekaan yang nasrani.
Museum Kereta Api Ambarawa

Bangunan museum ini dulunya adalah stasiun kereta api Willem I. Dinamai Willem I berdasarkan benteng pertahanan yang letaknya tak jauh dari situ. Di sini, Anda bisa mencoba naik kereta wisata Ambarawa-Tuntang. Selama satu jam, Anda bisa menikmati pemandangan indah gunung dan danau Rawa Pening. Hanya saja, kereta wisata ini hanya bisa memuat sekitar 40 orang dengan jam keberangkatan pukul 10 pagi, 12 siang, dan 14 sore. Harga tiket Rp 50.000. Sebaiknya Anda membeli tiket kereta api ini pagi hari sejak loket dibuka yakni pukul 8 pagi.



Hotel Griya Wijaya 
Jalan Tentara Pelajar 90, Ambarawa
0298 591 974
IG: griyawijayaambarawa

(Nieke Indrietta)

Ikuti saya juga di Instagram @katanieke_blog


Cerita perjalanan saya yang lain dan soal kuliner, klik di sini.

Tinggalkan komentar